Bandar Lampung — Di tengah derasnya arus digitalisasi yang kian merambah dunia pendidikan, Zaiyad Namiri memilih berdiri di persimpangan: antara teknologi dan nilai. Senin, 27 April 2026, menjadi penanda penting dalam hidupnya.
Di ruang sidang terbuka Program Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung, ia resmi menyandang gelar doktor, buah dari perjalanan panjang yang tidak hanya akademis, tetapi juga reflektif.
Namun, bagi Zaiyad, gelar doktor bukanlah garis akhir. Justru dari titik itu, ia ingin memulai sesuatu yang lebih besar yakni menghadirkan arah bagi digitalisasi pendidikan yang kerap berjalan tanpa kendali.
Dalam disertasinya, Zaiyad mengangkat realitas yang dekat dengan keseharian sekolah, khususnya di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Bandar Lampung. Ia melihat, teknologi telah masuk ke ruang-ruang kelas, tetapi belum sepenuhnya diiringi dengan kesiapan manajemen dan nilai.
“Digitalisasi bukan sekadar soal perangkat atau aplikasi. Ini tentang bagaimana sekolah mengelola perubahan,” ujarnya dengan tenang.
Dari kegelisahan itulah lahir konsep “Lang Sentiko”, sebuah kerangka enam langkah yang ia rancang sebagai panduan transformasi digital di sekolah. Mulai dari perumusan visi, evaluasi diri, penguatan sumber daya, hingga inovasi berkelanjutan, semuanya dirangkai sebagai proses yang tidak instan, tetapi bertahap dan berkesinambungan.
Di balik konsep itu, ada satu hal yang terus ia tekankan, pentingnya menjaga keseimbangan. Menurutnya, kemajuan teknologi tidak boleh menggerus nilai-nilai dasar pendidikan, terutama dalam konteks pendidikan Islam.
“Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga tempat membentuk karakter. Kalau ini hilang, kita kehilangan arah,” katanya.
Pemikiran Zaiyad terasa relevan di tengah kekhawatiran banyak pihak terhadap dampak digitalisasi yang tak terkendali, mulai dari ketergantungan teknologi hingga lunturnya interaksi sosial dan nilai moral. Ia tidak menolak teknologi, tetapi mengajak untuk mengelolanya dengan bijak.
Lebih jauh, ia melihat digitalisasi sebagai peluang. Bukan hanya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga memperluas peran pendidikan sebagai media dakwah dan penyebaran nilai-nilai kebaikan.
Namun, ia juga menyadari bahwa tidak semua sekolah memiliki akses yang sama. Karena itu, ia mendorong adanya dukungan kebijakan yang lebih merata, terutama bagi wilayah yang masih tertinggal.
Di akhir sidang, Zaiyad menyampaikan kalimat sederhana yang mencerminkan perjalanan dan keyakinannya: “Kesungguhan hari ini menentukan masa depan.”
Kalimat itu bukan sekadar penutup, tetapi cermin dari komitmen seorang pendidik yang ingin memastikan bahwa di tengah perubahan zaman, pendidikan tetap memiliki arah dan tetap berpijak pada nilai.(**)






